Kondisi aktivis dakwah di kampus STAN
Setelah hampir dua caturwulan saya belajar dan berkarya di kampus STAN. Saya menganggap kampus ini adalah kampus yang (subhanallah) luar biasa. Berani beda dari universitas-universitas lainnya. Tegak di saat yang lain bengkok. Putih di saat yang lainnya hitam.
Saat mahasiswa-mahasiswi kampus lain berlomba-lomba dengan pakaian termodis nan (khusus mahasiswi) seksi untuk kuliah, sekolah tinggi ini bertahan dengan kemeja polosnya, dan justru, tidak sedikit mahasiswi (baca: akhwat) yang berjilbab super lebar disini.
Saat mahasiswa-mahasiswi kampus lain dengan bangga memamerkan mobil mewah milik(orang tua)nya, mahasiswa-mahasiswi kampus STAN dengan santai menggoes sepedanya.. Kring kring.. Tapi yang paling populer di kalangan mahasiswa-mahasiswi STAN adalah berjalan kaki berangkat kuliah, walau nggak jarang juga yang lari ke kampus, abis dah telat banget sih..
Ketika kampus/universitas lain menggencarkan event pentas seni-nya, kampus biru ini juga sibuk menggembar-gemborkan acaranya.. Acara apa? Pensi? Eh eh.. Jangan salah.. Pengajian bo’!!
Yah, itulah sedikit gambaran tentang keadaan kampus STAN, di balik semua itu, ada pihak-pihak yang sangat berpengaruh dalam terciptanya kondisi ini. Apa? Lembaga? Ya itu juga sih, tapi ada lagi yang lainnya, siapa coba?? Ya, mereka itu ialah ikhwan dan akhwat harapan dunia.. Hehe, ruang lingkupnya kebesaran ya? Se-enggak-nya ikhwan dan akhwat harapan saya deh!
Menurut saya, para ikhwan dan akhwat inilah yang menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan kampus STAN. Dari (4S) senyum, salam, sapa dan semangat mereka, juga dari acara-acara keislaman yang mereka adakan.
Para ikhwan dan akhwat (baca: aktivis dakwah) seperti menjadi sorotan fokus di lingkungan kampus, agaknya semua mata tertuju pada mereka, semua diteliti dari ujung kaki sampai ujung rambut-ujung jilbab untuk akhwat. hal ini disebabkan karena mereka adalah contoh panutan bagaimana harus bersikap, bagi teman-temannya, bagi juniornya dan juga bagi keluarganya di rumah. Satu kesalahan kecil saja bisa berakibat besar. besar seperti apa?? Mari kita lanjutkan membacanya…
“ih, ikhwan kok begitu” atau “ih, akhwat kok begitu” mungkin pernyataan-pernyataan ini sering terbatin dalam hati orang-orang yang melihat kekurangan mereka. Apalagi bagi orang yang menjadikan ikhwan/akhwat tersebut contoh, dan saat ia melihat kelakuan sang ikhwan/akhwat itu jauh dari perkiraannya, maka akan terasa sekali sakit dan kekecewaannya.
Misalnya, pada waktu itu saya (pengalaman pribadi) melihat seorang akwat yang cukup akrab namanya di kalangan miba, akhwat itu sedang berjalan dan berbicara (baca: bercanda) dengan seorang laki-laki teman kampusnya. Walaupun jarak mereka tidak terlalu dekat, tetap saja hal itu membuat saya patah hati (?) dan tidak menyangka-nyangka kalau ia seperti itu.
Contoh lain, seorang akhwat yang bercanda dengan teman laki-laki, tetapi bukan itu saja, dengan sengaja ia berkata kasar pada temannya itu, walaupun saya tahu ia bercanda. tapi sangat tidak mengenakkan bila kata-kata itu keluar dari bibir seorang akhwat. Hal-hal sepele yang berakibat fatal baik bagi citra dirinya, citra islam, juga lain-lainnya.
Atau mungkin para ikhwan dan akhwat yang kurang berprestasi pada bidang akademik, dan juga akhwat dan ikhwan yang terlalu ramah, sehingga menimbulakan persepsi-persepsi yang negatif, ikhwan dan akhwat yang…
masih banyak lagi cerita lagi tentang para ikhwan dan para akhwat. tapi sepertinya hal itu telah cukup dijabarkan panjang lebar disini.
Ternyata eh ternyata, para ikhwan dan akhwat yang aktivis ini jugalah manusia biasa, mereka juga pernah-sering malah-berbuat kesalahan, mereka bukanlah malaikat yang tidak pernah khilaf dan tidak mempunyai hasrat dunawi. Dalam hati mereka mungkin terbesit juga rasa ‘ingin seperti orang-orang lainnya’. Dan baru saya sadari bahwa kekurangan yang ada pada mereka adalah suatu hal yang wajar, karena mereka adalah juga makhluk, dan makhluk tidak akan pernah jadi sempurna, satu-satunya yang sempurna hanyalah Sang Maha Besar, Maha Pengasih terhadap hamba-hambanya.
Tapi bukan berarti mereka bisa hidup sesuka hati di bumi 4JJI ini, karena mereka adalah orang-orang yang sadar akan tugas manusia adalah amar ma’ruf nahi munkar bukannya amar ma’ruf nyambi munkar.
Perhatian yang ‘lebih’ dari orang-orang sekitar hendaknya dijadikan sarana pengingat ketika salah, penyadar ketika lengah, penampar ketika khilaf, pelurus ketika lalai.
Luruskan lagi niatmu akhi-ukhti, segala yang kalian (kita) lakukan hanyalah semata-mata untuk dan karena 4JJI SWT, bukan karena mencari perhatian makhluk, bukan karena materi, bukan karena siapa-siapa dan apapun juga tapi 4JJI.
Perbaiki dirimu, bukan karena tatapan sinis seluruh dunia, tapi karena manusia-siapapun itu- harus bekerja, bergerak karena 4JJI! Wallahu’alam bi shawab
Salam ukhuwwah spesial ‘tuk:
ukhtiy shafiyyahkuw dan ukhtiy siputkuw
(love ya all coz 4JJI! amin)
June 2006
lots of love
Petta Rosetta
_Lady Rose_