hanya ia, hanya seorang manusia biasa…
meski dalam putus asa ia menyandarkan kepalanya ke meja kayu coklat, tangan kanannya menulis sebuah nama: hanya ia.
meski di depan ribuan mata penuh antusias ia menyanyikan lagu itu untuk hanya ia.
meski ia meminjam pada orang lain buku berjudul sama seperti yang pernah ia berikan kepada hanya ia.
meski berbait yang ia kirim, berharap hanya ia yang dapat menginterpretasikannya.
meskipun ia selalu mengembalikan lebih dengan apa yang hanya ia sangat suka.
meski di putihnya pasir pantai kala itu tergores olehnya nama hanya ia.
hanya ia, hanya seorang manusia biasa…