Archive for June, 2008

Cinta di Atas Cinta..

Friday, June 20th, 2008

 

 
 

   

 

   

      
Cinta di Atas Cinta…      
    Posted by: anugerah_w on Wednesday, February 08, 2006 - 08:04    

   

      Hudzaifah.org
- Perempuan oh perempuan ! Pengalaman bathin para pahlawan dengan
mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang
terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan
pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!

Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya
Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia dibesarkan di
lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan
gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan
keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang
menyisir rambutnya.

Tapi, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya
justru tumbuh mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak
itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku
takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada
seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk
di sampingnya, Al Zuhri.

Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri,
anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras
ini membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan,
tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta
nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah
Rasyidin kelima.

Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya
datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada
suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama
mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi
istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan
cemburu. Sekarang justru sang istrilah YANG MEMBAWANYA SEBAGAI HADIAH.
Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.

Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling
mengharu-biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit
kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap
jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika
cita-cita perubahannya belum selesai.

Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang
Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu?
Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak
merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan
semacam ini, Kata Umar.

Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.

Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah
Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, "Umar, dulu kamu pernah sangat
mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru,
tapi ia kemudian menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini
rasanya jauh lebih dalam!
" []

M Anis Matta Lc.

Sumber : Tarbawi 55/4/Muharram 1424H